Pada tahun 2026, kondisi pertanian khususnya tanaman padi di Desa Sumberjaya mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Dengan luas sawah sekitar ±250 hektare, sebagian besar petani mengalami kesulitan dalam melaksanakan musim tanam hingga berujung pada gagal panen. Kondisi ini terutama disebabkan oleh keterbatasan air, kekeringan berkepanjangan, serta serangan hama tikus.

1. Musim Tanam I (Januari–Maret 2026)

Pada Musim Tanam I, hampir 100% lahan persawahan tidak dapat ditanami secara normal. Embung Mokupa yang selama ini menjadi salah satu sumber utama air untuk persawahan tidak mampu memenuhi kebutuhan pengairan akibat debit air yang sangat terbatas.

Kondisi tersebut menyebabkan petani tidak dapat melaksanakan kegiatan tanam sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

2. Musim Tanam II (Mei–Juni 2026)

Memasuki Musim Tanam II, persoalan air masih berlanjut. Petani tidak dapat melakukan penanaman secara serentak karena ketersediaan air yang sangat terbatas.

Berbagai upaya telah dilakukan secara mandiri oleh petani, termasuk pembuatan sumur bor secara swadaya untuk mendapatkan sumber air tambahan. Upaya tersebut dilakukan dengan harapan tanaman padi tetap dapat ditanam dan diselamatkan.

Namun, keterbatasan air tetap menjadi kendala utama. Kondisi tanaman di lapangan menjadi tidak seragam, sebagian baru ditanam, sebagian dalam masa pertumbuhan, sementara sebagian lainnya mengalami kekeringan.

Selain kekeringan, serangan hama tikus juga semakin memperparah kondisi tanaman sehingga sebagian petani mengalami gagal panen dan sebagian lainnya memperoleh hasil yang sangat rendah.

3. Penurunan Produktivitas

Dampak dari kondisi tersebut terlihat sangat jelas pada hasil produksi padi Desa Sumberjaya.

Sebagai perbandingan, pada Musim Tanam II tahun 2025, produksi gabah Desa Sumberjaya mencapai sekitar 1.700 ton dalam satu musim tanam.

Sementara pada tahun 2026, berdasarkan kondisi di lapangan, produktivitas diperkirakan mengalami penurunan yang sangat drastis. Bahkan, apabila kondisi terus seperti ini, produksi diperkirakan hanya sekitar 5% dari produktivitas Musim Tanam II tahun 2025, atau berada di kisaran ±85 ton.

Angka tersebut merupakan gambaran/estimasi berdasarkan kondisi pertanaman di lapangan dan dapat berubah setelah dilakukan pendataan serta perhitungan hasil panen secara menyeluruh.

4. Harapan dan Kebutuhan Penanganan

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena menyangkut keberlangsungan kehidupan para petani dan ketahanan pangan di Desa Sumberjaya.

Petani telah berupaya semaksimal mungkin dengan kemampuan sendiri, termasuk mengeluarkan biaya untuk pembuatan sumur bor dan melakukan berbagai upaya penyelamatan tanaman. Namun, persoalan pengairan tidak dapat diselesaikan hanya dengan kemampuan petani secara swadaya.

Oleh karena itu, diharapkan adanya perhatian, penanganan dan bantuan dari pemerintah serta instansi terkait untuk membantu petani Desa Sumberjaya, terutama dalam:

  • penanganan dan peningkatan sistem pengairan persawahan;
  • peningkatan kapasitas dan fungsi sumber air/embung;
  • dukungan sarana dan prasarana sumur bor serta pompanisasi;
  • pengendalian hama tikus;
  • bantuan bagi petani yang mengalami gagal panen;
  • serta program pemulihan agar petani dapat kembali melakukan kegiatan usaha tani secara normal pada musim tanam berikutnya.

Tahun 2026 menjadi tahun yang sangat berat bagi petani Sumberjaya. Mereka telah berjuang mempertahankan tanaman dengan segala keterbatasan yang ada.

Harapan kami, kondisi ini dapat menjadi perhatian bersama agar para petani tidak dibiarkan menghadapi persoalan ini sendiri. Dengan dukungan dan penanganan yang tepat, diharapkan sawah Sumberjaya kembali produktif, petani kembali memiliki harapan, dan ketahanan pangan dapat terus terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *